Kemiskinan Ditengah Gemerlap Pariwisata

Booming turis yang datang ke Bali tahun 1980-1990 telah mengubah kehidupan masyarakat Bali yang dulunya agraris beralih ke sektor jasa. Desa-desa tradisional yang dulunya sepi seperti Ubud, Kedewatan, Kuta, Nusa Dua, Candidasa, Lovina, dll. berubah menjadi perkampungan internasional. Pertumbuhan ekonomi pun akhirnya melejit hingga 7,8% tahun 1990. Investasi telah menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi.
Sayangnya, investor yang datang hanya mengejar keuntungan tanpa peduli dengan masyarakat dan budaya lokal. Dampaknya, kesenjangan pendapatan terasa semakin lebar, kemiskinan bagai batu karang tetap banyak tak mampu dientaskan sampai tuntas.Sejak krisis ekonomi tahun 1998, pertumbuhan ekonomi Bali minus empat persen, sedangkan nasional saat itu minus 18 persen. Tahun 2007, pertumbuhan ekonomi nasional berkembang jadi 6,3 persen, sedangkan Bali hanya 5,92%. Padahal tahun 1990 pertumbuhan ekonomi Bali mencapai 8,86%, jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional 8,16%. Pertumbuhan ekonomi 2007 ini menjadikan pendapatan per kapita masyarakat Bali rata-rata Rp 11,18 juta, naik dari tahun sebelumnya Rp 10,89 juta.
Dikutip dari artikel surat kabar Balipost, Ketua Program Magister Ekonomi Pembangunan Pascasarjana Unud Prof. DR. Nyoman Erawan, S.E. kesenjangan pendapatan per kapita dan kesenjangan pembangunan antarkabupaten di Bali masalah klise dan menahun yang belum terpecahkan secara tuntas. Hal ini terlihat dari jumlah penduduk miskin masih cukup besar dan meningkat setelah krisis ekonomi. Kabupaten Badung dan Denpasar maju melesat, sedangkan lainnya masih tertinggal.
Salah satu kabupaten di Bali yang masih menyandang predikat sebagai daerah tertingal yaitu Kabupaten Karangasem, Sangat disayangkan di tengah glamour maraknya gemerlap pariwisata masih ada daerah yang masyarakatnya belum tersentuh program pemerintah. Angka kemiskinan yang tinggi tak dipungkiri menjadi salah satu pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan Pemkab Karangasem. Data yang dihimpun menunjukan, angka kemiskinan di Karangasem mencapai 41.826 KK. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya. Memasuki dua tahun masa kepemimpinannya, Bupati Wayan Geredeg sendiri mengakui tak mudah membalikkan fakta tersebut. Karenanya, untuk segera lepas dari ketertinggalan minimal tahun 2009, pihaknya telah menyusun pola penanganan tertentu. Diharapkan, pola tersebut bisa menyentuh langsung ke titik sasaran. Selain bersifat langsung, penanganan kemiskinan juga dilakukan dengan pendekatan sistem (multi player effect) dari sejumlah program pembangunan berskala besar. Dengan datangnya sejumlah investasi ke Karangasem, diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja untuk mengurangi tingkat pengangguran. Selama ini pembangunan di Karangasem belum menyentuh sektor riil seperti perdagangan dan pertanian dalam arti luas. Sektor serupa belum mendapat porsi memadai padahal sektor tersebut merupakan mata pencaharian utama masyarakat. Penanganan gepeng (gelandangan dan pengemis) belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah selama ini.
Kehidupan masyarakat daerah Kabupaten Karangasem tidak terlepas dari keadaan geografis wilayah Kabupaten Karangasem dimana wilayahnya sebagian besar merupakan lahan kering dan tandus, ini diakibatkan oleh geografisnya merupakan daerah aliran lava letusan gunung berapi yakni Gunung Agung yang merupakan gunung berapi tertinggi di Bali. Dengan kondisi seperti ini sebagian besar masyarakatnya kesulitan dalam pengadaan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Adapun daerah-daerah yang selalu dilanda kekeringan yaitu daerah bagian paling timur seperti Kecamatan Kubu hampir sebagian besar masyarakatnya kesulitan mendapatkan air bersih selain itu di wilayah kecamatan Karangasem yakni di Desa Seraya masyarakatnya juga kesulitan air bersih. Menghadapi situasi seperti ini Bupati Karangasem sekarang mempunyai gebrakan membangun embung (tempat penampungan air hujan) di setiap desa yang kesulitan air bersih yang mana diharapkan air hujan yang ditampung bisa dimanfaatkan dan digunakan dikala musim kemarau. Tetapi usaha ini jauh dari apa yang diharapkan masyarakat, karena air yang tertampung telah habis digunakan sebelum musim hujan datang lagi. Penyaluran air bersih yang diberikan pemerintah Kabupaten dengan mengirimkan 2 mobil tangki setiap harinya belum mampu memenuhi semua kalangan masyarakatnya. Ditengah keberadaan masyarakat daerah bagian Timur yang dilanda kekeringan Bupati sibuk mengurusi proyek-proyek pembangunan di daerah bagian barat yang lebih tertuju pada kepentingan kalangan-kalangan luar yakni investor-investor asing. Banyak proyek pembangunan berskala besar yang sedang dijalankan di daerah bagian barat seperti pembangunan dermaga kapal pesiar yang katanya Dermaga kapal pesiar terbesar di Asia Tenggara yang dibangun di Kecamatan Manggis, pembangunan Resort berskala internasional di wilayah Pasir Putih Desa Bugbug, dan salah satunya yang sedang trend sekarang ini dan memakan biaya tidak kalah besar yaitu pembangunan saluran air dari mata air Telaga Waja Desa Rendang Kecamatan Rendang dimana sebelum pembangunannya air dari penampungan Telaga Waja ini ditujukan untuk mensuplai kebutuhan air di desa-desa yang mengalami kekeringan seperti di yang ada di Kecamatan Kubu maupun desa Seraya tadi sehingga mendapat bantuan dana yang cukup besar dari pusat. Tetapi entah kenapa saluran itu malah diarahkan ke kecamatan yang daerahnya berlimpah air. Dari informasi yang diperoleh pada harian Balipost di katakan bahwa bupati mengarahkan saluran airnya ke daerah-daerah yang berlimpah air untuk tujuan ekonomis, karena di daerah tersebut banyak hotel-hotel dan restaurant dan juga untuk dijual ke kapal-kapal cruise (kapal pesiar) yang berlabuh. Jadi ini menjadi suatu dilemma dan polemic dimana timbul anggapan bahwa selama ini bupati hanya mengejar target-target proyek berskala besar dan hanya mementingkan keuntungan materi tanpa memperhatikan keadaan masyarakatnya yang sedang dilanda kesusahan.

Jadi dari semua permasalahan yang penulis temui dilapangan bisa dikatakan pembangunan yang telah dilakukan pemerintah daerah kabupaten karangasem di bawah kepemimpinan bupati Gredeg sekarang ini belum menyentuh ke aspek aspek riil, pembangunan yang dilakukan dapat dikatakan sebagai pembangunan yang tidak berkelanjutan dan hanya mementingkan keuntungan sebagian kelompok atau golongan tertentu, pembangunan masyarakat kecil khususnya pedesaan belum tersentuh dan jauh dari apa yang diharapkan sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s